Battlefield 3
Game ini jelas-jelas mendiskreditkan umat Islam. Game produksi EA
Digital Illusions CE tahun 2011 ini memuat plot rencana seseorang yang
mencoba menyerang New York. Komandan Blackburn, demikian si tokoh utama
game ini, mengungkapkan bahwa misi serangan itu dilakukan sebuah
kelompok teroris bernama PLR (kelompok teroris Iran) di bawah komando
seseorang bernama Sulaiman.
Stereotipe terhadap Islam sebagai teroris ditegaskan dengan
tokoh-tokoh antagonis, yang semuanya
beridentitas muslim. Ada tokoh PLR
bernama Al-Basyir yang akan melakukan aksi teror, tapi dapat digagalkan
tentara Amerika. Dalam game ini, tentara Amerika digambarkan sebagai
pihak yang "baik", serdadu pemberani, cinta damai, dan penyelamat umat
manusia.
Moschee Baba
Game ini adalah hasil buah pikir sempit satu partai ekstrem kanan di
Austria. Judul itu berarti "Selamat Tinggal Masjid". Isinya memang
tegas-tegas menggambarkan kebencian dan penghinaan terhadap Islam. Plot
game ini sangat sederhana, yaitu pemain diharuskan menembak jatuh muazin
atau menara masjid dalam waktu 60 detik untuk mengumpulkan poin.
Game yang dibuat Partai Kebebasan (FPOe) ini digunakan untuk kampanye
mendukung Gerhard Kurzmann, calon anggota parlemen dari daerah Styria,
pada 2010. Latar belakangnya adalah sikap kebencian karena banyaknya
masjid berdiri di wilayah itu. Padahal, nyatanya, di kota itu hanya ada
empat masjid untuk sekitar 1,6% penduduknya yang beragama Islam.
Muslim Massacre: The Game of Modern Religious Genocide
Dari judulnya saja jelas, game buatan seorang maniak komputer bernama
Eric "Sigvatr" Vaughn ini memang memuat kebencian terhadap Islam. Game
berplatform Microsoft Windows ini dirilis pada 2008. Plotnya sangat
brutal, yaitu pemain memerankan seorang pahlawan Amerika dengan membawa
beberapa jenis senjata.
Bermodal senjata-senjata itu, sang "hero" diterjunkan ke Timur Tengah
dan tugasnya sederhana: membantai semua muslim yang muncul di layar
komputer pada setiap level. Sang jagoan harus membantai semuanya, baik
muslim yang digambarkan sebagai sipil biasa maupun teroris.
0 comments